Potret Peristiwa Merapi
Potret Pucuk Merapi. Belum berselang lama Merapi meletus dan Mentawai terkena tsunami, kini merapi kembali "batuk" mengeluarkan isinya yaitu "wedhus gembel", Abu Vulkanik, lahar panas dll. Tepatnya kemarin malam dini hari.Wilayah yang pada awalnya sangat indah dengan warna hijaunya seolah seperti disihir menjadi warna abu-abu, karena terkena abu vulkanik. Tumbuhan, Hewan, Manusia, menjadi korban keganasan merapi. Hemb, mari kita berdoa semoga para korban Merapi dan Mentawai dapat bersabar menghadapi keadaan ini. Pray for Indonesia . .Dan Berikut adalah beberapa potret peristiwa merapi dari beberapa sumber :Potret salah satu radio yang berada dalam rumah yang terkena "sapuan" awan panas. Vivanews
Awan panas memusnahkan Desa Kinahrejo, yang tersisa hanya abu vulkanik yang menutupi seluruh desa. Seolah bukan berada di Indonesia . . Vivanews
Sandal salah seorang warga di Desa Kaliadem, Kaliadem, Yogyakarta yang tertutup abu vulkanik Merapi. Vivanews
Abu vulkanik Gunung Merapi menutupi seluruh interior salah satu rumah warga di Kinahrejo, Yogyakarta. VivanewsAbu vulkanik selimuti kota Bantul . Inilah.com
Mbah Maridjan Tewas Bersama Meletusnya Merapi
MBAH MARIJAN MENINGGAL : (Foto arsip) Juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan saat satu hari sebelum letusan Gunung Merapi di rumahnya Desa Kinahrejo, Sleman, Yogyakarta, Senin (25/10). Gunung Merapi meletus pada Selasa (26/10) dan menewaskan sedikitnya 25 orang warga, termasuk Mbah Marijan yang ditemukan tewas di kamar mandi rumahnya dengan posisi sujud. ( FOTO ANTARA/Regina Safri/arsip foto/Koz/hp/10. )
YOGYAKARTA ( Berita ) : Juru Kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan dipastikan meninggal dunia terkena letusan Gunung Merapi yang melanda Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Selasa (26/10) petang.
“Insya Allah jika melihat ciri-cirinya jenazah itu Mbah Maridjan,” kata Kepala Humas Rumah Sakit (RS) Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisno Nugroho, Rabu [27/10].
Salah satu ciri fisik yang dimiliki Mbah Maridjan di antaranya jempol tangan kanan bengkok. “Selama ini Mbah Maridjan diketahui memiliki jempol tangan kanan bengkok. Namun untuk lebih meyakinkan lagi akan dilakukan tes DNA,” katanya.
Juru Kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan menjadi korban dan ikut tewas akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore.
Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran Rabu pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.
Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dengan posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon.
“Biasanya di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri,” katanya.
Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh. “Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava,” katanya.
Setia “Jaga” Merapi
Ketika Gunung Merapi dinyatakan dalam status awas oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta pada Senin (25/10) pukul 06.00 WIB, pemerintah menindaklanjutinya dengan memerintahkan warga di sekitar gunung itu untuk mengungsi.
Pemerintah langsung turun tangan mengungsikan warga yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III Merapi, termasuk di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Sebagian besar warga, terutama lansia, anak-anak, dan perempuan bersedia untuk mengungsi di barak pengungsian yang telah disediakan pemerintah, tetapi ada warga yang belum mau dan tetap bertahan di rumah masing-masing.
Di antara warga yang belum bersedia mengungsi itu adalah juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan. Pria berusia 83 tahun bersikukuh tetap tinggal di rumahnya.
Meskipun sejumlah pihak telah berusaha membujuknya, Mbah Maridjan tetap bersikukuh tidak mau mengungsi dan tetap tinggal di kediamannya yang berjarak sekitar enam kilometer dari puncak gunung teraktif di dunia itu.
“Saya masih betah tinggal di tempat ini. Jika saya pergi mengungsi, lalu siapa yang mengurus tempat ini,” kata pria yang menyandang juru kunci Gunung Merapi sejak 1982 di kediamannya, Senin (25/10).
Namun demikian, Mbah Maridjan meminta warga menuruti imbauan pemerintah untuk mengungsi dan memohon keselamatan pada Tuhan agar tidak terjadi yang sesuatu yang tidak diinginkan jika Merapi benar-benar meletus.
“Saya minta warga untuk menuruti perintah dari pemerintah dan memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan Merapi tidak ‘batuk’,” kata pria yang memiliki tiga anak itu.
Menurut dia, hanya Tuhan yang tahu kapan Merapi akan meletus. “Saya tidak punya kuasa apa-apa,” katanya.
Sikap tidak mau mengungsi itu juga ditunjukkan Mbah Maridjan ketika Merapi mengalami erupsi pada 2006. Pada saat itu dirinya menolak untuk mengungsi meskipun dibujuk langsung oleh Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X dan dijemput mobil evakuasi.
Pria “sepuh” itu tetap tinggal di rumah untuk menepati janjinya terhadap mendiang Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang mengangkatnya sebagai juru kunci Gunung Merapi pada 1982.
Kejadian itu membuat Mbah Maridjan semakin terkenal. Popularitas itu membuat Mbah Maridjan dipercaya menjadi bintang iklan salah satu produk minuman energi.
Ternyata Tuhan berkehendak, Merapi meletus pada Selasa (26/10) petang. Bencana tersebut berdasarkan data hingga Rabu (27/10) mengakibatkan belasan orang luka-luka dan puluhan orang tewas, termasuk Mbah Maridjan.
Pria yang mengabdikan diri untuk “menjaga” Merapi itu tewas terkena awan panas saat gunung tersebut meletus.
Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Slamet mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu (27/10) pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.
“Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun hal itu belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi,” katanya.
Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon. Biasanya di dalam rumah tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri.
Kepala Humas dan Hukum Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan, saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyakarta.
“Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke Rumah Sakit Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung,” katanya.
Mbah Maridjan kini telah tiada. Dia telah menepati janjinya untuk tetap setia “menjaga” Gunung Merapi hingga akhir hayatnya. Kepala Desa Umbulharjo Bejo Mulyo mengatakan, Mbah Maridjan adalah orang yang memegang teguh prinsip dan bertanggung jawab.
Meskipun Merapi telah berstatus awas, Mbah Maridjan tetap bertahan di rumahnya sebagai wujud tanggung jawab terhadap amanat yang diemban sebagai “abdi dalem” Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Kami sangat kehilangan sosok yang menjadi ‘panutan’, yang selama ini selalu dijadikan tempat untuk meminta nasihat. Kami berdoa semoga arwah Mbah Maridjan diterima di sisi Allah SWT, diterima amal ibadahnya dan diampuni dosa-dosanya,” katanya.(ant)
Tes DNA
Jenazah Juru Kunci Gunung Merapi,Mbah Maridjan menjalani tes DNA yang dilakukan tim dokter forensik Rumah Sakit Dr.Sardjito Yogyakarta,Rabu[27/10].
“Tes DNA itu untuk memastikan salah satu jenazah korban erupsi Merapi adalah Mbah Maridjan,”kata anggota tim Disaster Victim Identification Kedokteran Kepolisian Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Agung Hadi Wijarnako di RS Dr Sardjito Yogyakarta.
Ia mengatakan upaya melakukan tes DNA tersebut dengan pertimbangan bahwa Mbah Maridjan merupakan tokoh masyarakat setempat yang dikenal luas sehingga perlu kepastiaan terhadap jenazah yang diduga juru kunci Gunung Merapi itu.
Dari sejumlah 25 jenazah korban awan panas erupsi Gunung Merapi yang dibawa di RS Dr Sardjito itu, salah satunya memiliki ciri-ciri fisik yang dimiliki Mbah Maridjan di antaranya jempol tangan kanan bengkok.
“Selama ini Mbah Maridjan diketahui memiliki jempol tangan kanan bengkok,”katanya.
Selain tes DNA, kata dia tim kedokteran melakukan pengenalan fisik lewat tinggi badan, berat badan, struktur gigi dan baju dikenakan terakhir kali sehingga tim memastikan bahwa jenazah itu adalah Mbah Maridjan. .
Menurut dia dari 25 jenazah korban awan panas itu, enam jenazah di antaranya belum terdientifikasi.Kondisi jenazah rata-rata 70 persen masih bisa dikenali.
“Sementara jenazah wartawan vivanews.com Yuniawan Nugroho dan relawan PMI Bantul sudah diambil keluarganya,”
Sementara itu Polda DIY memembuka pos pelayanan orang hilang berkaitan dengan bencana Gunung Merapi, bertempat di di RS Dr Sardjito, Yogyakarta.
Windha alini (30)